Jumat, 13 Mei 2016

Facebook Bantah Telah Mengatur Trending Topik

Facebook ingin meluruskan kebijakan editorialnya agar topik tersebut akan berhenti menjadi tren di jaringan sosial. Sebagaimana kebijakan Facebook trending topik yang membias telah menjadi isu panas di media masa selama pekan ini.


The Menlo Park, California, raksasa jaringan sosial tersebut menyampaikan pedoman pembuatan publik Trending Topics pada hari Kamis, hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memerangi laporan tentang kebijakan politik Facebook yang telah membias. Sebuah dokumen internal setebal 28 halaman menjelaskan secara sekilas tentang bagaimana Facebook memilih materi yang muncul dalam kotak berita populer.
 
kebijakan-facebook-trend-bias 
Dalam pedomannya, Facebook merinci bagaimana kombinasi algoritma komputer dan editor manusia menentukan apa yang harus menjadi topik tren di halaman Facebook. Algoritma pertama mendeteksi berita apa yang sedang beredar secara luas pada platform mereka, maka editor manusia meng-kroscek referensi cerita tersebut, untuk melihat apakah mereka juga dikover oleh 10 outlet berita utama, termasuk CNN dan Fox News Channel.

“Jika cerita teryata tersebut menyampaikan topik dengan tingkat kepentingan tinggi, hal itu yang dapat membuat topik tersebut lebih mungkin untuk dilihat,” Justin Osofsky, wakil presiden Facebook untuk operasi global, menulis dalam sebuah posting blog.

Proses Facebook dalam menentukan Trending Topics mendapat perhatian nasional awal pekan ini setelah blog teknologi Gizmodo melaporkan bahwa “kurator berita” Facebook telah diberitahu untuk menekan berita dari outlet berita dari parai konservatif sehingga sekitar lebih dari 1,65 miliar pengguna bulanan tidak akan dapat melihatnya.

Laporan itu spontan memicu reaksi dari Partai Republik, dengan meminta penyelidikan Kongres ke dalam praktek raksasa jaringan sosia ltersebut.

Facebook merilis pedoman setelah The Guardian memuat posting dokumen internal mereka pada hari Kamis lalu, yang menjelaskan tentang kebijakan jaringan sosial tersebut. Mereka mengatakan kepada CNET bahwa pedoman mereka bukanlah menjadi parameter Facebook Trending Topik untuk saat ini.

Dalam sebuah pernyataannya kepada CNET, Osofsky mengatakan jaringan sosial mereka bergantung pada lebih dari 1.000 sumber berita “untuk membantu memverifikasi dan ciri peristiwa dunia dan apa yang orang bicarakan.” Dia membantah klaim bahwa Facebook telah bias.


kebijakan-bias-facebook 
“Pedoman tersebut menunjukkan bahwa kami memiliki serangkaian checks and balances di berbagai tempat untuk membantu menampilkan berita yang paling populer, terlepas dari mana spektrum ideologi mereka,” tulis Osofsky dalam posting blog. “Facebook tidak mengizinkan atau menyarankan pengulas kami untuk melakukan diskriminasi terhadap sumber dari setiap asal periode politik.”

Senator Republik John Thune dari South Dakota, yang memimpin komite yang mengawasi teknologi dan masalah Internet, pada awal pekan ini telah mendorong Kongres untuk melihat ke dalam praktek Facebook. Dalam sebuah pernyataan singkat, Thune mengatakan, “Hal ini sangat mengganggu pembelajaran, bahwa kekuatan ini sedang digunakan untuk membungkam sudut pandang dan berita yang tidak sesuai dengan agenda orang lain.”

Kehebohan atas kebijakan editorial Facebook Trending Topik saat ini lebih banyak dinilai sebagai langkah perusahaan untuk mencari keuntungan lebih banyak atas kontrol konsumsi berita publik. Sosial media sekarang hanya mengekor televisi sebagai sumber berita, menurut sebuah studi Nielsen yang dirilis minggu ini.